Efek Buruk Bikin Irit BBM Lewat ECU Mobil

0
1

[ad_1]

Hal yang sama juga berlaku pada peningkatan performa melalui ECU.



VIVA.co.id – Pemilik bengkel HB Car Computer Hendry mengungkapkan, engine control unit untuk mobil yang dipasarkan di tiap negara berbeda-beda, meski sama-sama buatan Jepang.

Pria yang sehari-hari mengerjakan perbaikan ECU itu mengatakan, ECU mobil merek Jepang yang dijual di Indonesia diprogram khusus sesuai dengan kondisi jalan yang ada.

“Perbedaannya mulai dari durasi, waktu pengapian dan jumlah bahan bakar yang disemprotkan injektor. Saya coba langsung, enggak usah pakai teori dyno,” ujarnya kepada VIVA.co.id di BSD, Tangerang Selatan.

Menurutnya, saat ini banyak orang tertipu dengan komponen peningkat performa mobil aftermarket. Contohnya seperti piggyback, yang diklaim bisa mengubah aturan standar ECU.

“Perangkat aftermarket itu cuma buat orang merasa mobilnya kencang. Lebih ke psikologis. Terlebih bila ditunjang dengan angka-angka pada dyno meter,” ungkapnya.

Menurutnya, mengubah aturan standar pada ECU (remapping) sangat tidak disarankan. Karena, hal itu bisa membuat mesin mudah rusak.

“Kita tidak bisa memaksakan ECU agar menyemprotkan bensin lebih sedikit, dengan pengapian yang sedikit, agar bensin lebih irit. Karena, ada efeknya,” ujarnya.

Ia mengaku, sudah membahas hal tersebut beberapa kali dengan para mekanik bengkel. “Kalau mau irit, otomatis bensin ‘dicekik’. Efeknya, piston hancur dalam 2-3 bulan. Karena, asupan bensin yang disalurkan injektor untuk ruang bakar tidak sesuai,” katanya.

Hal yang sama juga berlaku pada peningkatan performa. Hendry mengatakan, mengatur ulang ECU agar menyemprotkan bensin lebih banyak juga berisiko.

Itu sebabnya, ubahan pada ECU disarankan hanya dilakukan pada mesin-mesin yang sudah dimodifikasi. Karena spesifikasinya berubah, otomatis pengaturan standar pada ECU tidak berlaku, dan harus diatur ulang sesuai kebutuhan.



[ad_2]

If You Want to see Source link

LEAVE A REPLY