Mahasiswa ITS Kembangkan Edu Braille

0
6

[ad_1]

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Sebanyak tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Nida Amalia (Teknik Informatika), Rahmat Wahyu Bambang Ari (Teknik Mesin), dan Edi Hamid Saifullah (Teknik Elektro) membuat braille hardware untuk membantu anak Sekolah Dasar penderita tuna netra.

“Alat ini dinamakan Edu Braille. Tujuannya membuat ini karena braille yang selama ini ada sangat tebal sehingga sangat menyulitkan penderita tuna netra terutama anak-anak SD,” kata Nida Amalia di ruang LP2KHA, Gedung Plasa dr Angka ITS, Jumat (21/10).

Nida mengatakan huruf braille yang ada juga mudah hilang setelah dipakai pada waktu yang lama. Dia menambahkan, alat tersebut dibuat untuk pengenalan huruf, seperti mengeja, belajar huruf mati, mengenal angka dan penjumlahan.

“Dalam alat ini ada fitur membaca atau berhitung kelas satu SD. Selain itu juga ada fitur untuk membaca Alquran,” jelasnya.

Dia menerangkan ada tujuh halaman dalam Edu Braille yang memakai konsep elekromagnetik tersebut. Dalam setiap blok ada enam huruf dan 72 relay per blok. “Dalam alat ini juga ada suara yang akan membantu para penderita membaca. Selain itu pada toombol kiri dan kanan ada halaman, in, pindah mode, untuk mengganti ke suara,” ujarnya.

Dirinya mengungkapkan butuh waktu setahun untuk membuat alat ini, mulai dari pengembangan hingga proses akhir. Selain itu alat ini menghabiskan biaya hingga Rp 2 juta.

Braille hardware karya mahasiswa ITS tersebut nantinya akan berlaga dalam final dalam final Pagelaran Mahasiswa Nasional Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (GemasTIK) ke-9 yang akan dilangsungkan pada tanggal 27-29 Oktober 2016 di Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia, Depok.

ITS Surabaya berhasil meloloskan 14 tim dan jumlah tersebut memasukkan ITS pada peringkat dua perguruan tinggi terbanyak yang berhasil meloloskan peserta dalam final tersebut. Peringkat pertama diduduki oleh Universitas Indonesia sebagai tuan rumah dengan meloloskan sebanyak 19 tim. Perringkat ketiga dan empat diduduki oleh ITB (13 tim) dan UGM (12 tim).

Ketua Lembaga Pengembangan Pendidikan, Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni (LP2KHA) ITS Dr Darmaji mengatakan, tahun ini sebanyak 119 tim dari 37 perguruan tinggi negeri dan swasta dinyatakan ke final oleh panitia pusat.

“Kami berharap ITS bisa memboyong beberapa penghargaan tertinggi. Dari 10 kategori lomba GemasTIK, ITS hanya tidak meloloskan pada dua kategori, yaitu animasi, dan keamanan jaringan dan sistem informasi,” jelasnya.

Darmaji menambahkan, dari 14 tim yang lolos ke final, sedikitnya ada lima sampai tujuh tim yang bisa diunggulkan, antara lain tim Quasy dan MOCO Warrior untuk kategori piranti cerdas dan embedded system; tim TRIOS untuk kategori desain UX; juga ada tim Fragment untuk kategori pengembangan aplikasi permainan. “Target kami memang cukup tinggi, karena itu kami berharap mahasiswa bisa mempersiapkan diri lebih maksimal,” ujarnya.

[ad_2]

If You Want to See Source link

LEAVE A REPLY