Produsen Oli Menjerit Sulit Jualan di Bengkel Resmi Mobil

0
2

[ad_1]

Jakarta -Produsen pelumas akhirnya mulai mengeluhkan susahnya masuk ke bengkel resmi pabrikan. Mereka merasa tidak bisa bersaing secara sehat dengan oli resmi buatan pabrikan.

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Distributor, Importir, dan Produsen Pelumas Indonesia (Perdippi) Paul Toar, pabrikan mobil terutama pabrikan Jepang selalu mengancam akan menghapus garansi mesin jika konsumen menggunakan oli di luar oli resmi.

“Praktik mengaitkan wajib penggunaan pelumas genuine APM Jepang dengan masa garansi mesin di bengkel berlanjut dijual sampai ke after market,” ujarnya di Jakarta.

Orang nomor satu di produsen oli TOP 1 ini menambahkan hal ini menyebabkan persaingan usaha yang tidak sehat. “Dan cenderung mengarah ke oligopoli,” ujarnya.

Wakil Sekjen Perdippi Heri Djohan menambahkan praktik wajib oli resmi ini membuat distributor pelumas kesulitan. “Distributor mati,” tegasnya.

Heri menambahkan pihaknya sudah melaporkan hal ini kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam 2 tahun terakhir. “Namun sampai saat ini belum ada feedback. KPPU belum menindaklanjuti,” ujarnya.

Selain Perdippi, ada juga produsen oli aftermarket lain yang mengaku kesulitan memasarkan produk mereka di bengkel resmi produsen kendaraan. Produsen pelumas tidak diizinkan menjual produk di bengkel resmi.

Asosiasi produsen pelumas juga sudah mengadukan hal ini ke Kementerian Perindustrian dan juga sudah mendekati kalangan produsen mobil.

Karena sulit mendapatkan akses ke bengkel resmi ini, produsen pelumas akhirnya gencar di bengkel umum. “Strateginya, kami harus lebih agresif. Kalau di bengkel resmi kita tetap melakukan pendekatan khusus, agar bisa menjual di sana. Agar mereka mau membuka tidak hanya menjual produk mereka saja. Sehingga persaingan lebih sehat,” tambah seorang eksekutif di sebuah perusahaan pelumas besar di Indonesia yang tidak mau disebutkan namanya.

Masalah lain yang sedang dialami produsen pelumas di Indonesia adalah kelangkaan base oli atau bahan baku yang mengakibatkan local blender tidak bisa berkembang. Di saat produsen pelumas asing diberi kesempatan untuk ekspansi dalam membangun LOBP (Lube Oil Blending Plant).

“Hal ini mengancam keberadaan local blender yang sangat terbatas sumber dayanya,” ujar Paul Toar.

Industri pelumas saat ini masih hampir sepenuhnya tergantung pada impor baik bahan baku dasar maupun aditif, sehingga nilai tambah terhadap ekonomi masih kecil.

“Besarnya pasar pelumas dalam negeri hanya sekitar Rp 25 triliun, sangat kecil dibanding PDB Indonesia yang sekitar Rp 13.000 triliun, namun pelumas mempunya dampak yang sangat besar dalam menjaga keawetan, dan produktivitas mesin-mesin kapital dan peralatan transportasi,” ujar Paul Toar.

Foto: Dadan Kuswaraharja

Foto: Dadan Kuswaraharja

(ddn/ddn)

[ad_2]

Source link

LEAVE A REPLY