Tujuh Penyebab Anak Tak Suka Makan Sayur dan Buah

0
4

[ad_1]

VIVA.co.id – Melihat semakin banyaknya pilihan menu di restoran cepat saji untuk anak-anak, hingga remaja, tak heran bila mereka lebih akrab dengan makanan asal negara Barat seperti burger, kentang goreng dan minuman bersoda.

Sedangkan untuk mengonsumsi sayuran dan buah, justru menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Padahal, sebelum memaksa anak untuk mau mengonsumsi sayur dan buah, sebaiknya sebagai orangtua, terlebih dahulu sadar dan memberikan contoh baik bagi anak mereka.

Berdasar data Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas pada tahun 2013, sebanyak 93,5 persen penduduk Indonesia dengan usia di atas 10 tahun, kurang mengonsumsi sayur dan buah. Hal tersebut bahkan tidak menunjukkan perubahan dibanding enam tahun sebelumnya.

Dalam jurnal gizi dan pangan pada Maret 2014, terungkap bahwa anak Indonesia  hanya mengonsumsi setengah dari porsi serat yang dianjurkan (hanya 34,55 kilogram per tahun, padahal yang dianjurkan adalah 73 kilogram).

Selain itu, diketahui pula bahwa anak kota ternyata mengonsumsi serat jauh lebih rendah dibanding anak di pedesaan.

“Membuat anak suka makan sayur dan buah, dimulai dari orangtuanya dahulu,” kata Psikolog Keluarga, Ayoe Sutomo, M.Psi, dalam Diskusi Asupan Serat Sejak Dini Cegah Penyakit Kronis, di Jakarta, 16 November 2016

Menurutnya, ada tujuh penyebab anak tak suka makan buah dan sayur. Pertama, anak tidak dikenalkan dan tidak dibiasakan, kedua adalah orang tua juga tidak suka makan sayur dan buah.

“Menurut anak, semua makanan ya enak. Kecuali anak dengan gangguan spesifik khusus. Tapi bagi anak normal, umumnya rasa makanan itu enak semuanya. Kalau orangtua mengenalkan buah dan sayur sejak awal, mereka akan berpikir itu enak. Apalagi saat sejak hamil sudah dikenalkan,” paparnya.

Ketiga adalah, bahwa orang tua kurang memahami pentingnya makan sayur dan buah,”sehingga perlu peningkatan edukasi tentang ini.” Keempat adalah tampilan dan rasa kurang menarik, kelima yaitu pengalaman tidak enak dengan sayur dan buah.

“Ada pengalaman traumatik, seperti dicekokin, rasa trauma itu bisa dibawa sampai tua. Harus diperbaiki mindset-nya,” ujarnya menjelaskan.

Juga yang keenam adanya gangguan sensori dan masalah dalam mengunyah. “Seperti dialami anak dengan gangguan ADHD (attention deficit hyperactivity disorder atau lebih dikenal hiperaktif), mereka ada hipersensitif, seperti makanan yang tidak  keras tapi dirasakan keras. Maka, kenalkan dalam bentuk lainnya.”

Dan alasan terakhir adalah repot menyiapkan atau mengolah sayur dan buah. Orangtua seringkali merasa repot jika harus menyiapkan sayur dan buah untuk keluarga, sehingga makanan cepat saji menjadi solusi bagi permasalahan ini, yang akhirnya menjadikan anak lebih akrab dengan makanan cepat saji.

Ilustrasi anak makan sayur

[ad_2]

If You Want to see Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here