MEDIAKITA.CO.ID – Warga Desa Tatah Layap, Kecamatan Tatah Makmur, Kabupaten Banjar, mengeluhkan gangguan distribusi air bersih yang berlangsung sejak Juli 2026. Meski air mulai kembali mengalir pada waktu tertentu, debitnya masih kecil sehingga belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Keluhan tersebut disampaikan dalam audiensi antara warga, Aliansi DEMA PTKIN se-Indonesia Wilayah Kalimantan Selatan, dan jajaran PT Air Minum Intan Banjar (Perseroda), Kamis (1/10/2026).
Koordinator Daerah Kalimantan Selatan Aliansi DEMA PTKIN se-Indonesia, Khairul Fikri, mengatakan warga meminta perusahaan segera memulihkan distribusi air bersih, menjelaskan penyebab gangguan, serta memberikan kepastian mengenai target penyelesaian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami menyampaikan poin tuntutan dan ada solusi jangka pendek serta solusi jangka panjang yang disampaikan langsung oleh Dirut PTAM Intan Banjar,” ujar Khairul.
Salah satu tuntutan warga ialah penyediaan air bersih menggunakan mobil tangki secara gratis selama distribusi melalui jaringan perpipaan belum normal.
Menurut Khairul, gangguan tersebut berdampak terhadap ratusan rumah yang tersebar di RT 1 hingga RT 6. Warga pun kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih, terlebih wilayah Tatah Layap berada di kawasan perbatasan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar.
“Air merupakan objek vital dan sumber kehidupan bagi masyarakat. Kami mendesak PTAM Intan Banjar melakukan penyaluran air bersih yang memadai untuk wilayah Tatah Layap,” katanya.
Salah seorang warga, Haudi Sultan, mengatakan gangguan distribusi mulai dirasakan sejak Juli 2026. Saat ini, air memang sudah kembali mengalir pada waktu tertentu, termasuk malam hari, tetapi debitnya masih terbatas.
“Dari bulan Juli mati. Sampai sekarang, untuk sekarang ini ada nyala, malam juga nyalanya. Keluarnya masih tidak deras, tapi cukup,” ungkap Haudi.
Selama distribusi terganggu, warga terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Haudi menyebut harga air yang dibeli berkisar Rp2.000 hingga Rp3.000 per galon.
Pengeluaran tersebut dinilai cukup membebani warga karena kebutuhan air bersih setiap keluarga tidak cukup hanya satu galon per hari.
“Sedangkan kebutuhan masyarakat tidak hanya satu galon per hari. Jadi lumayan boncos juga kalau dikalikan berapa galon dalam sehari,” ujarnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Direktur Utama PTAM Intan Banjar, Syaiful Anwar, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti laporan warga dengan menerjunkan tim untuk memeriksa kondisi jaringan distribusi di lapangan.
“Nanti kita tindak lanjuti. Tim kita turun ke lapangan,” kata Syaiful.
Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui penyebab gangguan distribusi air. Jika ditemukan masalah teknis pada jaringan, PTAM akan melakukan perbaikan sesuai hasil pemeriksaan.
“Akan kita cek. Kalau ada apa-apa ya pasti diperbaiki,” jelasnya.
Syaiful menambahkan, langkah penanganan selanjutnya akan ditentukan setelah tim memperoleh hasil pemeriksaan di lapangan. Ia juga menyebut masukan yang disampaikan warga dalam audiensi menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan pelayanan air bersih kepada pelanggan.













