Home » 9 Grup Finalis Siap Bertanding di Grand Final Festival Becatuk Dauh 2026

9 Grup Finalis Siap Bertanding di Grand Final Festival Becatuk Dauh 2026

MEDIAKITA.CO.ID – Sebanyak 9 grup finalis siap bersaing dalam Grand Final Festival Becatuk Dauh 2026, ajang budaya yang digelar Disbudporapar Kabupaten Banjar untuk melestarikan tradisi bedug sekaligus mendorong partisipasi generasi muda.

Kepala Disbudporapar Banjar, Irwan Jaya, menjelaskan bahwa kesembilan grup ini lolos dari proses seleksi dan penyisihan sebelumnya.

“Dari hasil seleksi, kita menghasilkan 9 grup yang masuk final. Semua kategori terwakili, meski untuk juara satu dari masing-masing desa belum ditentukan,” ujar Irwan Jaya Jumat (20/2/2026).

Ia menambahkan, festival ini tidak hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga bagian dari pelestarian budaya Banjar. Festival ini memberi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan menjaga tradisi lokal.

“Kita melihat beberapa penabuh bedug masih muda. Melalui festival ini, kami berharap pelestarian budaya semakin kuat. Selain juara satu hingga tiga, kami juga menyiapkan penghargaan khusus untuk pelestarian budaya,” jelasnya.

Irwan Jaya juga menyinggung rencana pengembangan festival di masa depan, termasuk pemecahan kategori berdasarkan usia, seperti kelas dewasa dan anak-anak, agar penilaian lebih adil dan sesuai kemampuan peserta.

Selain itu, pihaknya mempertimbangkan kemungkinan memperluas ajang hingga tingkat provinsi, meski harus memperhitungkan kapasitas penyelenggaraan, penyediaan hadiah, dan pengelolaan peserta.

Terkait jadwal, Grand Final Festival Becatuk Dauh 2026 direncanakan digelar pada pertengahan Ramadan, yakni sekitar tanggal 4 Maret 2026, dengan harapan Bupati Banjar dapat hadir langsung untuk menutup acara sekaligus menyerahkan hadiah kepada para pemenang.

“Soal hadiah, jumlah dan jenisnya telah dinaikkan dari tahun sebelumnya. Ini diharapkan memotivasi peserta untuk tampil maksimal dan menampilkan yang terbaik,” tambah Irwan Jaya.

Festival Becatuk Dauh menjadi salah satu kegiatan budaya yang mendapat antusiasme tinggi, selain berfungsi sebagai hiburan, juga sebagai upaya menghidupkan tradisi lokal yang mulai tergerus modernisasi, seperti penggantian bedug dengan sirine untuk penanda waktu salat dan berbuka puasa. (rdn)