Home » Penyiaran Harus Jadi Penjernih di Tengah Banjir Informasi

Penyiaran Harus Jadi Penjernih di Tengah Banjir Informasi

MEDIAKITA.CO.ID – Arus informasi yang kian deras di era digital menuntut perubahan cara pandang dalam dunia penyiaran. Kecepatan yang dulu menjadi tolok ukur utama, kini tak lagi cukup tanpa diimbangi akurasi dan tanggung jawab.

Hal itu disampaikan Komisioner KPID Kalimantan Selatan, Nanik Hayati, dalam refleksinya menyambut Hari Penyiaran Nasional ke-93. Ia menilai, lanskap media telah berubah drastis sejak era televisi menjadi sumber utama informasi publik.

“Dulu siapa paling cepat, dia yang menang. Breaking news adalah panggung utama. Tapi hari ini, semua orang bisa menjadi penyiar,” ujarnya.

Menurut Nanik, derasnya arus informasi dari media sosial dan platform digital menghadirkan tantangan baru. Informasi tidak lagi tersaring secara ketat, sehingga hoaks, disinformasi, hingga manipulasi konten kerap lebih cepat menyebar dibandingkan klarifikasinya.

Dalam kondisi tersebut, publik dinilai tidak hanya membutuhkan kecepatan, tetapi juga kebenaran yang terverifikasi dan dapat dipercaya.

Ia menegaskan, peran lembaga penyiaran justru semakin strategis di tengah situasi ini. Penyiaran tidak lagi sekadar berlomba menjadi yang pertama, melainkan harus mampu menjadi sumber informasi yang paling bertanggung jawab.

“Penyiaran harus menjadi penjernih di tengah keruhnya informasi. Menjadi penuntun, bukan sekadar pengikut arus,” katanya.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa penyiaran yang menghadirkan informasi akurat, berimbang, dan bertanggung jawab memiliki kontribusi besar dalam menjaga stabilitas sosial serta memperkuat kepercayaan publik.

Selain itu, penyiaran juga berperan penting dalam merawat keberagaman dan mencegah polarisasi di tengah masyarakat.

“Di tengah arus informasi global, penyiaran nasional adalah benteng. Benteng yang menjaga masyarakat dari manipulasi informasi dan memastikan ruang publik tetap sehat,” jelasnya.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga penyiaran, regulator, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga kualitas informasi.

Menurutnya, ketahanan nasional saat ini tidak hanya dibangun dari aspek fisik, tetapi juga dari kekuatan di ruang informasi.

“Kecepatan tetap penting, namun harus berjalan beriringan dengan akurasi, etika, dan tanggung jawab kebangsaan,” tegasnya.

Nanik berharap, momentum Hari Penyiaran Nasional dapat menjadi pengingat bagi seluruh insan media untuk terus menjaga integritas dan kepercayaan publik.

“Pada akhirnya, bukan yang tercepat yang akan menguatkan bangsa, melainkan informasi yang paling valid dan terpercaya,” pungkasnya. (rdn)