Produksi Padi 2025 Capai 186.668 Ton, Ketersediaan Beras Banjar Aman hingga Oktober 2027

MEDIAKITA.CO.ID – Ketersediaan beras di Kabupaten Banjar dipastikan dalam kondisi aman. Berdasarkan neraca ketersediaan pangan dari hasil panen petani sepanjang tahun 2025, produksi padi mencapai 186.668 ton.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Banjar, Sipliansyah, melalui Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan M. Hamdani menjelaskan, jumlah tersebut setelah dikonversi menghasilkan ketersediaan beras sebesar 107.226 ton.

“Jika dihitung berdasarkan neraca ketersediaan dan kebutuhan, stok beras dari hasil panen 2025 mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Kabupaten Banjar sepanjang tahun 2026 hingga Oktober 2027,” ujarnya Senin (23/2/2026).

Ia menjelaskan, perhitungan tersebut sudah memperhitungkan distribusi dan penjualan beras ke luar daerah. Sejumlah hasil panen petani Banjar diketahui juga dipasarkan ke berbagai wilayah seperti Banjarbaru, Kotabaru, Balangan hingga Kalimantan Tengah melalui pengepul.
“Memang ada beras yang dijual ke luar daerah, termasuk ke Kalteng. Namun itu sudah masuk dalam hitungan neraca. Secara keseluruhan, ketersediaan tetap mencukupi,” jelasnya.
Dari sisi rasio ketersediaan terhadap kebutuhan, terjadi peningkatan signifikan. Pada 2025, rasio ketersediaan tercatat sebesar 1,51. Artinya, produksi beras mampu memenuhi kebutuhan tahunan dengan surplus sekitar 51 persen atau setara cadangan sekitar setengah tahun.
Sementara itu, rasio terbaru meningkat menjadi 1,91. Angka ini menunjukkan surplus yang lebih besar dibanding tahun sebelumnya, sekaligus memperkuat posisi Kabupaten Banjar sebagai daerah lumbung pangan.
“Artinya, kondisi pangan khususnya beras di Kabupaten Banjar dalam suasana aman dan surplus. Julukan sebagai daerah lumbung pangan masih sangat layak disandang,” tambahnya.
Terkait harga, M. Hamdani mengakui terjadi kenaikan menjelang Ramadan 2026. Kenaikan berkisar antara Rp1.000 hingga Rp2.000 per liter.
Untuk beras lokal jenis Adil, harga normal sebelumnya sekitar Rp10.000 per liter, kini naik menjadi sekitar Rp12.000 per liter. Sementara beras jenis Mayang yang sebelumnya dijual Rp15.000 per liter, kini mencapai Rp17.000 per liter.
Kenaikan harga ini dipengaruhi siklus panen dan pola distribusi. Menjelang masa panen berikutnya, sebagian petani maupun pedagang cenderung menyimpan stok dengan harapan harga meningkat.
“Biasanya setelah panen berikutnya, harga akan kembali menyesuaikan,” ujarnya.
Sebagai upaya menjaga stabilitas harga dan membantu masyarakat, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Banjar menyediakan 16.000 liter beras dalam kegiatan Gerakan Pangan Murah selama Ramadan.
Program ini diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh beras dengan harga lebih terjangkau sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga di pasaran. (rdn)


